Berita Terbaru

Dari Pedalaman Jeneponto, Ismail Berkarya di Antara Kuda dan Buku

Di tengah rutinitas bertani dan mengurus ternak di pedalaman Jeneponto, Ismail konsisten membaca buku dan membagikan refleksi melalui media sosial.

Ismail, pemuda asal Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, yang aktif membagikan konten literasi melalui media sosial di tengah kesehariannya membantu keluarga bertani dan mengurus ternak. (Dok. Pribadi)

Jeneponto, Lontara Today -  Di sela hamparan kebun pedalaman Jeneponto, Sulawesi Selatan, Ismail tak hanya akrab dengan cangkul dan tanah. Di waktu-waktu senggang, tangannya berganti memegang buku.
Seusai membantu keluarga bertani atau mengurus ternak kuda, ia membuka lembar demi lembar bacaan, lalu merangkum gagasan yang menurutnya penting untuk dibagikan kepada orang lain.

Dari Refleksi Menjadi Inspirasi
Di tengah derasnya arus media sosial yang dipenuhi hiburan singkat, pemuda itu memilih jalur yang berbeda. Melalui akun media sosialnya, ia rutin mengulas buku, membagikan hasil refleksi, serta mengajak generasi muda menjadikan membaca sebagai kebiasaan.
Bagi Ismail, media sosial tidak hanya layak menjadi ruang hiburan, tetapi juga ruang belajar.

Pilihan itu terasa kontras dengan kehidupan sehari-harinya. Ismail bukan kreator konten yang bekerja di studio atau menghabiskan hari di depan komputer. Ia adalah anak muda yang aktif bertani sekaligus menjadi tulang punggung keluarga.
Aktivitas fisik yang padat tidak membuatnya meninggalkan kebiasaan membaca. Justru di sela-sela rutinitas itulah ia menemukan waktu untuk memperkaya pikirannya.

Bagi Ismail, membaca bukan sekadar hobi, melainkan proses membentuk cara pandang terhadap kehidupan. Karena itu, konten-konten yang ia buat tidak pernah dimaksudkan untuk mengejar popularitas ataupun jumlah pengikut.
"Sebetulnya video yang saya buat itu untuk bahan refleksi di kemudian hari," ujarnya.

Seiring waktu, video-video tersebut justru mendapat respons positif dari publik. Apa yang semula menjadi catatan pribadi berubah menjadi media berbagi pengetahuan.
Pengalaman itu semakin menguatkan keyakinannya bahwa media sosial dapat menjadi sarana menyebarkan gagasan-gagasan yang bermanfaat.

Menurutnya, generasi muda memiliki tanggung jawab menghadirkan konten yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberi nilai tambah. Keyakinan itu membuatnya konsisten membaca dan menyebarkan semangat literasi melalui platform digital yang ia miliki.
Semangat tersebut juga turut dipengaruhi ketika ia aktif berorganisasi di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Organisasi, menurutnya, menjadi ruang yang membentuk cara berpikir dan memperluas pandangan tentang peran seorang pemuda.
"Ketika saya aktif dalam organisasi, saya sadar bahwa seorang insan itu tidak hanya menjadi penikmat, tetapi juga pencipta," katanya.

Di Antara Kebun, Keluarga, dan Buku
Rutinitas Ismail berlangsung sederhana namun disiplin. Jika tidak berada di kebun pada siang hari, pagi ia gunakan untuk membaca buku. Siang diisi dengan berdiskusi bersama teman-temannya, sementara malam menjadi waktu untuk menulis, merekam, dan menyunting konten edukasi yang akan ia unggah.

Di balik konsistensinya berkarya, keluarga menjadi sumber kekuatan utama. Baginya, keseimbangan antara membantu orang tua dan mengembangkan diri bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi.
"Tanpa kehadiran keluarga, hidup serasa sayur tanpa garam. Dari keluarga saya belajar pentingnya keharmonisan sosial," tuturnya.

Meski optimistis terhadap perkembangan literasi, Ismail mengakui minat baca generasi muda masih menghadapi tantangan besar. Ia menilai penggunaan telepon genggam yang tidak bijak membuat banyak anak muda mudah terdistraksi dari aktivitas membaca.
"Minat baca generasi muda saat ini amatlah redup. Tantangannya adalah handphone yang kemudian membuat kita sangat terdistraksi," ujarnya.

Namun, tantangan itu tidak membuatnya pesimis. Sebaliknya, ia memandang tantangan sebagai bagian dari proses bertumbuh.
"Tantangan bukanlah penghambat, tetapi seni hidup. Tanpa tantangan kita tidak bisa berpikir kritis."

Jejak yang Ingin Ditinggalkan
Karena itu, ia tidak pernah menjadikan jumlah penonton atau pengikut sebagai tujuan utama. Baginya, keberhasilan diukur dari seberapa jauh gagasan yang ia baca dapat menjangkau orang lain.
Ia berharap semakin banyak anak muda di berbagai daerah berani menjadi figur literasi di lingkungannya masing-masing.

Menjelang akhir perbincangan, Ismail mengungkapkan bagaimana ia ingin dikenang suatu hari nanti. Baginya, menjadi orang baik saja belum cukup. Hal yang lebih penting adalah menjadi manusia yang benar-benar memberi manfaat bagi orang lain.
"Orang baik tidak perlu banyak bergerak karena orang lain akan berbicara tentang kebaikannya. Tapi orang yang bermanfaat membutuhkan tindakan dan risiko."

Barangkali itulah yang sedang ia lakukan hari ini. Di antara kebun, buku, dan media sosial, Ismail membuktikan bahwa semangat literasi tidak ditentukan oleh tempat seseorang tinggal, melainkan oleh kemauan untuk terus belajar dan membagikan pengetahuan kepada sesama.
Pesan yang selalu ia ulang pun tetap sederhana:
"Tetap membaca dan sampaikan hasil bacaan dengan gaya bahasa yang dikuasai."


Jurnalis & Founder IFN Media Group...

Anda mungkin menyukai postingan ini