Kemarau 2026 Datang Lebih Cepat, Sulsel Siaga Hadapi Ancaman "El Nino Godzilla"

BMKG peringatkan kemarau 2026 datang lebih cepat di Sulsel. Pemprov siaga hadapi ancaman El Nino kuat yang berpotensi picu kekeringan.

 

Ilustrasi kondisi kemarau ekstrem di wilayah Sulawesi Selatan yang ditandai tanah retak dan lahan pertanian mengering akibat minimnya curah hujan.

Makassar, Lontara Today - Ancaman perubahan iklim ekstrem kembali menjadi perhatian di Sulawesi Selatan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa musim kemarau tahun 2026 diprediksi datang lebih awal dengan intensitas yang berpotensi lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Peringatan ini langsung direspons oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dengan menetapkan status siaga penuh. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi dampak kekeringan yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus mendatang, terutama pada sektor kebutuhan air bersih dan pertanian.

Fenomena yang diprediksi terjadi pada tahun ini tidak sekadar kemarau biasa. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut adanya potensi kemunculan fenomena El Nino dengan intensitas kuat, yang kerap disebut sebagai “El Nino Godzilla”. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kondisi El Nino ekstrem yang dapat menyebabkan penurunan curah hujan secara signifikan dalam waktu yang panjang.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Selatan, Amson Padolo, menegaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi untuk menghadapi potensi krisis tersebut.

“BPBD berfungsi mengoordinasikan upaya dari berbagai instansi. Beberapa langkah strategis yang sudah kami siapkan antara lain optimalisasi embung dan pencarian sumber air alternatif,” jelas Amson.

Salah satu upaya konkret yang tengah dipersiapkan adalah pembangunan sumur bor di wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan. Program ini direncanakan kembali melibatkan TNI, mengingat kerja sama serupa pada tahun-tahun sebelumnya dinilai berhasil membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan air.

Menurut Amson, sumur bor yang dibangun melalui kolaborasi tersebut hingga kini masih dimanfaatkan masyarakat, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun pertanian.

Di sisi lain, tantangan besar juga dihadapi oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di berbagai kabupaten/kota di Sulsel. Ketergantungan pada sumber air permukaan seperti sungai dan bendungan membuat pasokan air baku rentan terganggu saat musim kemarau.

“Ketersediaan air baku biasanya menjadi tantangan terbesar. Karena itu, kami terus berkoordinasi dengan pengelola sumber daya air dan PDAM untuk mencari sumber alternatif. Kita harus mengoptimalkan apa yang ada, termasuk sumur-sumur dalam yang sudah kita bangun,” tambahnya.

Apabila kondisi semakin kritis dan mulai berdampak pada ketahanan pangan, pemerintah juga membuka kemungkinan penggunaan teknologi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan. Namun, penerapan metode ini sangat bergantung pada kondisi atmosfer yang mendukung.

“Kalau memang masih ada potensi awan di langit, teknologi modifikasi cuaca bisa menjadi salah satu upaya yang kita tempuh untuk merangsang turunnya hujan di wilayah-wilayah kritis,” terangnya.

Secara ilmiah, kondisi kemarau ekstrem tahun 2026 diperkirakan terjadi akibat kombinasi antara El Nino kuat dan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif. El Nino menyebabkan pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik, sementara IOD positif memicu pendinginan suhu laut di wilayah barat Indonesia.

Kombinasi kedua fenomena ini berdampak pada pergeseran awan hujan menjauh dari wilayah Indonesia, sehingga curah hujan berkurang secara signifikan.

Meski demikian, dampak kekeringan tidak diperkirakan merata di seluruh Indonesia. Berdasarkan proyeksi, wilayah selatan seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Timur berpotensi mengalami kekeringan lebih parah. Sementara Sulawesi, termasuk Sulawesi Selatan, masih memiliki peluang mendapatkan curah hujan yang relatif lebih baik, meskipun tetap berada dalam kondisi rawan.

Pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini. Salah satunya dengan menghemat penggunaan air serta memanfaatkan penampungan air hujan sebagai cadangan.

“Mitigasi harus dimulai dari sekarang, bukan saat air sudah habis. Kesadaran masyarakat untuk menghemat air sangat membantu kerja pemerintah dalam menghadapi El Nino tahun ini,” pungkas Amson.

Hingga saat ini, pemerintah terus memantau perkembangan kondisi cuaca dan menyiapkan berbagai skenario penanganan untuk memastikan dampak kekeringan dapat ditekan seminimal mungkin.

Jurnalis & Pengelola Lontara Today...

Anda mungkin menyukai postingan ini