Dua Dekade Menabung, Imam Tunanetra Asal Sinjai Akhirnya Berangkat Haji
Saifuddin, imam masjid tunanetra asal Sinjai, berangkat haji tahun ini setelah menabung lebih dari 20 tahun dari usaha kecil dan honor imam.
![]() |
| Saifuddin HM Abd Muin Saideng, jemaah calon haji asal Kabupaten Sinjai, bersiap berangkat ke Tanah Suci di Asrama Haji Sudiang Makassar, Sabtu (2/5/2026). (dok/Liputan6) |
Makassar, Lontara Today - Niat Saifuddin HM Abd Muin Saideng untuk menunaikan ibadah haji akhirnya terwujud tahun ini. Jemaah calon haji asal Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, itu berangkat ke Tanah Suci setelah menunggu lebih dari dua dekade, sebuah perjalanan panjang yang ia tempuh dengan keterbatasan penglihatan dan penghasilan yang sederhana.
Saifuddin tergabung dalam Kloter 17 Embarkasi Makassar. Di antara ratusan jemaah yang bersiap berangkat dari Asrama Haji Sudiang, kisahnya menjadi salah satu yang menyita perhatian. Bukan semata karena kondisi fisik yang ia alami, melainkan karena ketekunan yang ia jalani selama bertahun-tahun untuk sampai di titik ini.
Sejak lama, Saifuddin dikenal sebagai imam masjid di kampung halamannya di Sinjai. Meski tidak lagi dapat melihat, ia tetap menjalankan perannya memimpin ibadah di lingkungan tempat tinggalnya. Rutinitas itu tetap ia jalani seperti biasa, mengandalkan ingatan dan kebiasaan yang telah ia hafal sejak masih bisa melihat.
"Saya imam masjid di kampung. Saya bisa hafal (jalan ke masjid) saat masih bisa melihat dulu," kata Saifuddin di Asrama Haji Sudiang Makassar, Sabtu (2/5/2026).
Perjalanan menuju keberangkatan haji tidak ia tempuh dengan mudah. Saifuddin mengaku harus menabung dalam waktu yang panjang, menyisihkan sedikit demi sedikit penghasilannya dari usaha kecil yang ia jalankan sehari-hari.
Selama bertahun-tahun, ia mengandalkan hasil berjualan bahan campuran, ditambah honor sebagai imam masjid yang nilainya tidak besar. Dari penghasilan itulah biaya haji dikumpulkan perlahan.
"20 tahun lebih menabung. Jualan bahan campuran. Honor dari imam masjid Rp200 ribu," ujarnya.
Tabungan itu tidak langsung membawanya berangkat. Setelah mendaftar haji pada 2014, Saifuddin masih harus menunggu giliran keberangkatan hingga akhirnya namanya masuk dalam daftar jemaah tahun ini.
"Tahun 2014 sudah mendaftar. Alhamdulillah," katanya.
Bagi Saifuddin, berangkat haji bukan hanya soal keberangkatan ke Tanah Suci, tetapi juga tentang kesabaran menjaga niat dalam waktu yang panjang. Di tengah keterbatasan fisik, ia tetap berusaha mandiri. Dalam proses keberangkatan kali ini, ia didampingi keluarga, namun tetap berupaya melakukan banyak hal sendiri.
"Alhamdulillah ada keluarga, tapi saya masih kuat jalan," akunya.
Baca Juga: Unhas Jadi Kampus Pertama Punya Dapur MBG, Mendiktisaintek Dorong Kampus Lain Meniru
Saifuddin mulai kehilangan penglihatan sejak remaja, saat masih duduk di bangku SMP. Ia menceritakan, gangguan pada matanya bermula dari rasa sakit yang datang tiba-tiba, disertai pembengkakan. Sejak itu, penglihatannya perlahan menurun hingga akhirnya hilang.
"Awalnya mata terasa sakit seperti tertusuk jarum. Bengkak," katanya.
Ia sempat menjalani pengobatan dan berharap kondisi matanya bisa pulih. Namun upaya itu tidak mengembalikan penglihatannya seperti semula.
"Doanya berharap mata sembuh. Sudah pernah berobat. Tahun 85, tidak langsung kabur penglihatan. Waktu itu berobat ke dokter mata di Makassar," jelasnya.
Meski begitu, kondisi tersebut tidak membuat Saifuddin berhenti menjalani aktivitas sosial dan keagamaan. Ia tetap aktif di tengah masyarakat, memimpin ibadah, dan menjalani pekerjaan sehari-hari sambil menyimpan keinginan untuk berhaji.
Kepala Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Sinjai, Kamriati Anis, mengatakan Saifuddin termasuk salah satu jemaah difabel asal Sinjai yang mendapat perhatian khusus selama proses keberangkatan.
"Jadi kebetulan di tempat kami Kabupaten Sinjai ada yang tunanetra," katanya.
Menurut Kamriati, bentuk pendampingan yang diberikan lebih difokuskan pada bantuan dari keluarga dan pengawasan petugas selama proses ibadah berlangsung. Saifuddin dinilai masih cukup mandiri dan tidak memerlukan alat bantu khusus.
"Kalau obat tidak, dia cuma pendampingan orang. Karena dia juga tidak pakai alat, gak di kursi roda," ujarnya.
Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan petugas kloter agar Saifuddin mendapat perhatian selama menjalankan rangkaian ibadah di Tanah Suci.
"Tadi saya tiba langsung titip ke ketua kloter, tabe ini yang harus kita utamakan membantu dia," jelasnya.
Kini, setelah penantian panjang dan usaha yang dijalani selama lebih dari 20 tahun, Saifuddin akhirnya berangkat bersama Kloter 17 Embarkasi Makassar. Dengan pendampingan keluarga dan bantuan petugas, ia bersiap menunaikan ibadah haji yang telah lama ia perjuangkan.
