Di Mana Lagi Kita Bisa Menemukan Passapu Selain di Museum?

Passapu, penutup kepala tradisional pria Makassar, semakin jarang terlihat. Benarkah budaya ini mulai ditinggalkan di tengah perubahan zaman?



Di sudut-sudut Kota Makassar, kita mudah menemukan orang mengenakan topi baseball, bucket hat, atau bahkan beanie. Di pusat perbelanjaan, toko pakaian modern terus menghadirkan tren baru setiap musim. Namun, ada satu penutup kepala yang semakin jarang terlihat di ruang-ruang keseharian masyarakat Sulawesi Selatan: Passapu.

Ironisnya, banyak generasi muda justru lebih sering melihat Passapu di foto-foto sejarah, festival budaya, atau etalase museum dibandingkan di kepala masyarakatnya sendiri.

Padahal, Passapu bukan sekadar pelengkap busana adat.

Ia adalah penutup kepala tradisional khas pria Makassar yang juga dikenal sebagai patonro, terbuat dari lilitan kain tenun bercorak khas. Di balik bentuknya yang sederhana, tersimpan makna yang tidak ringan: kewibawaan, martabat, identitas, hingga status sosial seseorang.

Dahulu, Passapu menjadi bagian dari kehidupan.

Ia dikenakan ketika menghadiri pertemuan adat, acara keluarga, perjalanan jauh, bahkan dalam aktivitas sehari-hari pada masa tertentu. Kehadirannya menjadi penanda bahwa seseorang berasal dari tanah yang menjunjung tinggi nilai siri' na pacce.

Kini, keadaan mulai berubah.

Modernisasi memang membawa banyak kemudahan. Cara berpakaian ikut berkembang, tren berganti begitu cepat, dan budaya global semakin mudah masuk melalui media sosial. Tidak ada yang salah dengan perubahan itu. Budaya memang selalu bergerak mengikuti zaman.

Yang patut dipertanyakan adalah ketika perubahan tersebut membuat kita perlahan kehilangan hubungan dengan identitas sendiri.

Berapa banyak anak muda Sulawesi Selatan yang tahu cara memakai Passapu dengan benar?

Berapa banyak yang mengetahui bahwa setiap lipatan dan bentuk lilitannya memiliki makna?

Bahkan, mungkin tidak sedikit yang baru pertama kali mendengar nama Passapu setelah membacanya di artikel ini.

Keadaan tersebut tentu tidak bisa sepenuhnya disalahkan kepada generasi muda.

Ruang untuk memperkenalkan budaya lokal semakin sempit. Sekolah lebih banyak mengajarkan sejarah nasional dibandingkan kekayaan budaya daerah. Di media sosial, konten tentang budaya sering kalah bersaing dengan hiburan yang datang silih berganti. Akibatnya, simbol-simbol budaya seperti Passapu perlahan kehilangan tempat dalam kehidupan sehari-hari.

Padahal, budaya akan tetap hidup selama masih digunakan.

Museum memang memiliki peran penting sebagai penjaga sejarah. Namun museum seharusnya menjadi tempat untuk mengingat, bukan satu-satunya tempat untuk menemukan budaya.

Passapu tidak harus dipakai setiap hari.

Tidak pula harus menjadi bagian dari tren fesyen yang dipaksakan.

Namun setidaknya, ia masih memiliki ruang dalam berbagai momentum kehidupan masyarakat. Dipakai dengan bangga pada acara resmi, kegiatan budaya, festival daerah, hingga dikenalkan kepada anak-anak sejak dini sebagai bagian dari identitas Sulawesi Selatan.

Di berbagai daerah di Indonesia, sejumlah simbol budaya justru berhasil beradaptasi dengan zaman. Batik tidak lagi identik dengan acara formal. Ulos mulai dikenakan dalam berbagai kesempatan. Tenun Nusa Tenggara hadir dalam busana modern. Semua itu menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu berarti mempertahankan bentuk lama, tetapi memberi ruang agar tetap relevan.

Passapu pun memiliki peluang yang sama.

Yang dibutuhkan bukan hanya pelestarian oleh pemerintah atau komunitas budaya, melainkan juga rasa memiliki dari masyarakatnya sendiri.

Karena sesungguhnya, identitas tidak hilang dalam semalam.
Ia memudar sedikit demi sedikit ketika tidak lagi dikenali, tidak lagi dipakai, dan akhirnya tidak lagi diceritakan.

Mungkin suatu hari nanti, kita masih bisa melihat Passapu berdiri rapi di balik kaca museum.

Namun pertanyaannya tetap sama.

Apakah kita ingin anak cucu hanya mengenalnya sebagai benda bersejarah, atau sebagai warisan yang masih hidup di tanahnya sendiri?

Jurnalis & Founder IFN Media Group...

Anda mungkin menyukai postingan ini