Ketika Sarjana Ilmu Komunikasi Gagal Paham dengan Realitas Pesan di Jalanan Gowa-Makassar
Sarjana Ilkom UIN Alauddin baru sidang Juli ini? Ternyata teori komunikasi kalah telak sama realitas pengendara motor di Gowa-Makassar!
| Di antara bisingnya klakson dan lalu-lalang pengendara, sarjana baru mencoba merenungkan kembali arti sebuah teori. |
Esai, Lontara Today - Sebagai lulusan baru Ilmu Komunikasi UIN Alauddin Makassar yang baru saja merampungkan sidang pada bulan Juli ini setelah melewati drama panjang perjuangan hingga semester 10, saya tadinya percaya diri bahwa kacamata akademik bisa menjelaskan segala fenomena sosial di sekitar kita. Di kepala saya, teori-teori komunikasi massa, sosiologi perkotaan, hingga analisis semiotika ala Roland Barthes adalah pisau bedah yang paling tajam untuk memahami realitas.
Sayangnya, teori-teori mentereng itu mendadak rontok seketika, kehilangan makna, dan tampak sia-sia begitu saya keluar gerbang kampus lalu menginjakkan kaki di aspal jalanan Gowa dan Makassar.
Kuliah komunikasi mengajarkan kita bahwa komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan secara efektif, terstruktur, dan minim gangguan (noise). Namun, para ahli teori komunikasi itu jelas belum pernah meriset langsung kebiasaan pengendara di ruas Jalan Sultan Alauddin atau Pettarani pada jam sibuk. Di sini, gangguan atau noise bukan lagi variabel pengganggu, melainkan menu utama kehidupan sehari-hari.
Simbol dan tanda yang dipelajari dalam semiotika mendadak berubah fungsi di jalanan ini. Lampu riting kiri tapi belok kanan adalah bentuk dekonstruksi tanda yang paling nyata. Lampu merah tidak lagi dibaca sebagai tanda perintah untuk berhenti berdasarkan undang-undang lalu lintas, melainkan sekadar hiasan estetis yang menyala terang di tengah riuhnya polusi kota.
Sebagai anak daerah yang hidup di pusaran Gowa dan Makassar, jalanan ini adalah laboratorium komunikasi non-verbal yang paling brutal. Teori manajemen konflik yang diajarkan dosen di ruang kuliah yang mengedepankan dialog rasional dan mediasi sama sekali tidak berlaku saat berhadapan dengan sopir pete'-pete' yang tiba-tiba berhenti mendadak demi menurunkan penumpang. Di jalan raya, manajemen konflik diterjemahkan secara instan: adu urat leher, tatapan tajam penuh siri’, atau sekadar mengelus dada sambil melafalkan doa agar selamat sampai tujuan.
Bahkan, konsep khalayak aktif (active audience) dalam studi media seolah menemukan bentuk nyatanya di sini. Pengendara motor di Makassar adalah khalayak yang sangat aktif menafsirkan aturan; jalur hijau, trotoar, hingga arah berlawanan ditafsirkan ulang sebagai jalur alternatif yang sah demi efisiensi waktu.
Di titik itulah kesadaran pahit merayap sebagai sarjana komunikasi baru: buat apa menghafal teori komunikasi antarpribadi dan sosiologi perkotaan setebal bantal, kalau pada akhirnya rumus paling ampuh untuk bertahan hidup di jalanan Gowa-Makassar adalah perpaduan antara insting bertahan hidup, doa ibu, dan klakson motor yang masih nyaring bunyinya?
Gelar sarjana komunikasi dari UIN Alauddin Makassar yang baru saya raih bulan Juli ini memang sah menjadi bekal akademis di atas kertas. Namun, jalanan Gowa-Makassar adalah kampus pertama yang menguji kewarasan saya dengan cara paling realistis. Ijazah setinggi apa pun tidak akan pernah cukup untuk menaklukkan kota ini, kecuali kamu punya mental baja dan tidak gampang baper di jalanan.
Jelajahi Portofolio Saya
Kumpulan karya, proyek, dan pencapaian terbaik yang telah saya selesaikan.