Warganya Patungan Rp102 Juta, Bupati Enrekang Disorot Usai Donasi Rp2 Juta untuk Jalan Rusak
Warga Desa Baringin patungan Rp102 juta perbaiki jalan Enrekang-Sidrap. Donasi Rp2 juta dari Bupati Enrekang jadi sorotan warga.
![]() |
| Foto: Ilustrasi donasi di tengah kondisi jalan rusak yang masih diperbaiki warga secara swadaya di Desa Baringin, Enrekang. |
Enrekang, Lontara Today - Warga Desa Baringin, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, menyoroti minimnya kontribusi pemerintah daerah dalam perbaikan jalan penghubung Enrekang-Sidrap yang rusak parah. Sorotan mengarah ke Bupati Enrekang Yusuf Ritangnga setelah bantuan yang diberikan secara pribadi disebut hanya Rp2 juta, jauh di bawah total swadaya masyarakat yang telah mencapai Rp102 juta.
Jalan sepanjang kurang lebih 6 kilometer itu selama ini menjadi akses penting bagi warga, namun kondisinya disebut rusak berat dan belum pernah mendapat penanganan memadai. Di tengah keterbatasan bantuan pemerintah, warga memilih bergerak sendiri dengan menggalang dana dan melakukan perbaikan secara gotong royong.
Warga Desa Baringin, Muhammad Fadil Nugraha, mengatakan dana swadaya yang terkumpul terus bertambah. Hingga Selasa (28/4/2026), jumlah donasi masyarakat telah mencapai Rp102 juta.
"Ada donasi masuk lagi Rp 32 juta dari swadaya warga dari sebelumnya terkumpul Rp 70 juta jadi total Rp 102 juta. Kalau untuk pemda secara resmi belum ada bantuan," kata Muhammad Fadil Nugraha, dinukil dari detiksulsel, Selasa (28/4/2026).
Menurut Fadil, warga kecewa karena perhatian pemerintah daerah dinilai belum sebanding dengan kebutuhan perbaikan jalan yang sudah lama rusak. Ia menyebut Bupati Enrekang sebelumnya sempat menyampaikan rencana berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Sidrap terkait pembangunan jalan tersebut, namun hingga kini belum terlihat tindak lanjut yang jelas.
"Kami kecewa dengan Pemkab sebab sempat disampaikan Pak Bupati akan koordinasi dengan Bupati Sidrap untuk pembangunan jalan. Tapi nyatanya tidak ada hasil koordinasi dan hanya ikut donasi Rp 2 juta. Jauh lebih banyak donasi warga," terangnya.
Warga menyebut bantuan Rp2 juta dari kepala daerah menjadi sorotan karena nilainya jauh di bawah partisipasi masyarakat yang dikumpulkan secara mandiri. Di saat warga bergotong royong menggalang dana, pemerintah daerah dinilai belum menunjukkan intervensi konkret melalui dukungan resmi anggaran.
Baca Juga:
Eksekusi Tanah di Selayar Dipaksa Jalan, Sengketa Belum Selesai dan Laporan Polisi Sudah Masuk
Korban Luka 4 Jahitan, Benang Layangan di Batua Raya Makassar Resahkan Pengguna Jalan
Dana swadaya yang terkumpul sejauh ini digunakan untuk memperbaiki titik-titik jalan rusak dan membangun infrastruktur dasar penunjang akses. Tambahan dana Rp32 juta yang baru masuk, kata Fadil, akan digunakan untuk pengadaan gorong-gorong serta menyewa alat berat.
"Dari Rp 32 juta itu, ada pengadaan tambahan 36 gorong-gorong dan sewa ekskavator untuk penggalian tanah penempatan gorong-gorong," bebernya.
Pekerjaan yang dilakukan warga mencakup pemasangan gorong-gorong untuk memperbaiki aliran air dan mencegah kerusakan jalan semakin parah. Selain itu, alat berat dibutuhkan untuk menggali titik penempatan gorong-gorong agar perbaikan dapat dilakukan lebih efektif.
Fadil menyebut kondisi jalan tersebut sudah lama dikeluhkan warga. Jalan penghubung itu disebut belum pernah mendapat perbaikan menyeluruh selama puluhan tahun dan hingga kini sebagian besar masih berupa jalan tanah.
"Itu jalan belum pernah dilakukan perbaikan sudah puluhan tahun, hanya jalan tanah yang belum pernah diaspal sejak kampung tersebut ada. Sehingga kami warga berinisiatif untuk mengerjakan secara swadaya," kata Fadil.
Kondisi tersebut mendorong warga mengambil inisiatif memperbaiki akses secara mandiri. Jalan itu dinilai vital karena menghubungkan mobilitas warga antarwilayah, termasuk akses ekonomi dan distribusi hasil pertanian.
Baca Juga: Warga Makassar Kecewa, Laporan Dugaan Perzinaan Istri Mengaku Ditolak Polrestabes
Di tengah keterbatasan dukungan pemerintah daerah, warga kini berharap perhatian datang dari pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat. Harapan itu muncul setelah Pemkab Enrekang disebut mengakui belum mampu memberi dukungan lebih besar karena keterbatasan fiskal.
"Bupati Enrekang sudah bilang belum bisa membantu banyak untuk pekerjaan jalan dengan alasan keuangan Enrekang tidak baik. Jadi kami tetap open donasi dan swadaya untuk perbaikan sambil menunggu perhatian pemerintah, terutama pemerintah provinsi dan pusat," imbuhnya.
Hingga kini, perbaikan jalan penghubung Enrekang-Sidrap masih terus berjalan dengan mengandalkan swadaya masyarakat. Warga tetap membuka donasi sambil menunggu keterlibatan pemerintah yang lebih nyata untuk menangani akses jalan tersebut secara menyeluruh.
