Berita Terbaru

58,3 Persen Anak Muda Mengaku Punya Masalah Mental, Tekanan Ekonomi Jadi Pemicu Utama

Survei Muda Bicara ID Q1 2026 mencatat 58,3 persen anak muda mengaku punya masalah mental. Tekanan ekonomi dan masa depan jadi pemicu utama.

 

Foto ilustrasi seorang anak muda menghadapi tekanan ekonomi dan beban kerja di tengah persoalan kesehatan mental yang kian banyak dialami generasi muda.

Jakarta, Lontara Today - Mayoritas anak muda di Indonesia mengaku sedang menghadapi persoalan kesehatan mental. Temuan itu tercatat dalam Survei Nasional Q1 2026 yang dirilis Muda Bicara ID, dengan 58,3 persen responden menyatakan saat ini memiliki isu terkait kesehatan mental.

Angka tersebut menempatkan persoalan kesehatan mental sebagai salah satu isu sosial yang paling dekat dengan generasi muda, di tengah tekanan ekonomi, ketidakpastian karier, hingga kecemasan terhadap masa depan.

Berdasarkan hasil survei, sebanyak 35 persen responden menyatakan tidak memiliki persoalan kesehatan mental, sementara 6,7 persen lainnya memilih tidak menjawab.

Temuan ini menunjukkan bahwa isu kesehatan mental bukan lagi persoalan pinggiran di kalangan anak muda, melainkan telah menjadi bagian dari realitas sosial yang dihadapi sehari-hari.

Survei Nasional Q1 2026 Muda Bicara ID dilakukan terhadap 800 responden yang tersebar di 38 provinsi di Indonesia. Sebanyak 52,6 persen responden berada pada rentang usia 24 hingga 30 tahun atau kelompok yang dikategorikan sebagai “Core Youth”.

Survei ini dilakukan pada 1 hingga 30 Maret 2026 menggunakan metode computer-assisted self interviewing (CASI), dengan margin of error sekitar 5 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

Dalam hasil survei tersebut, tekanan ekonomi dan kekhawatiran terhadap masa depan menjadi faktor paling dominan yang memengaruhi kondisi mental anak muda.

Sebanyak 61,9 persen responden menyebut tekanan ekonomi dan kecemasan terhadap masa depan sebagai tantangan terbesar dalam menjaga kesehatan mental.

Angka itu menjadi yang tertinggi dibanding faktor lain, sekaligus menunjukkan bahwa persoalan finansial kini menjadi sumber tekanan paling besar bagi generasi muda.

Temuan ini memperlihatkan bahwa persoalan kesehatan mental pada anak muda tidak berdiri sendiri sebagai isu emosional atau psikologis semata, melainkan berkaitan erat dengan tekanan struktural yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Beban finansial, biaya hidup, persaingan kerja, dan ketidakpastian arah karier menjadi faktor yang terus membayangi kelompok usia produktif muda.

Di bawah tekanan ekonomi, tantangan lain yang juga memengaruhi kondisi mental anak muda adalah persoalan relasi sosial dan tekanan digital.

Sebanyak 6,9 persen responden menyebut hubungan dengan teman atau pasangan, termasuk relasi yang tidak sehat (toxic relationship), sebagai tantangan terbesar dalam menjaga kesehatan mental.

Sementara 6,3 persen responden menyebut kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di media sosial sebagai faktor yang ikut memicu tekanan psikologis.

Adapun tekanan pekerjaan berada di angka 5,8 persen, disusul kurangnya kemampuan mengelola stres sebesar 5,4 persen.

Faktor lain yang juga tercatat dalam survei antara lain minimnya ruang aman untuk bercerita sebesar 3,5 persen, kondisi keluarga yang kurang harmonis 3,3 persen, keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan mental 3,1 persen, tekanan akademik 2,3 persen, serta stigma negatif terhadap isu kesehatan mental sebesar 1,5 persen.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental anak muda tidak hanya dipengaruhi satu faktor tunggal, melainkan terbentuk dari tekanan sosial, ekonomi, relasi personal, dan lingkungan digital yang saling berkelindan.

Di saat yang sama, hasil survei ini juga menunjukkan adanya tingkat kesadaran yang cukup tinggi di kalangan anak muda terhadap kondisi psikologis mereka sendiri.

Muda Bicara ID mencatat mayoritas anak muda memiliki kesadaran diri atau self-awareness yang cukup tinggi terhadap kondisi mental yang sedang mereka alami.

Kesadaran ini menjadi penanda bahwa isu kesehatan mental semakin dipahami sebagai persoalan nyata yang dekat dengan kehidupan generasi muda, bukan lagi isu yang dianggap tabu atau sekadar persoalan personal.

Temuan Muda Bicara ID ini juga sejalan dengan survei lain yang menunjukkan tekanan ekonomi masih menjadi persoalan utama generasi muda Indonesia.

Dalam laporan Survei Nasional Q1 2026 yang sama, persoalan lapangan kerja juga tercatat sebagai isu paling krusial menurut anak muda Indonesia dengan angka 39,5 persen.

Sampai saat ini, tekanan ekonomi, ketidakpastian masa depan, dan terbatasnya ruang aman masih menjadi tantangan utama yang paling banyak dirasakan anak muda dalam menjaga kesehatan mental mereka.

Jurnalis & Founder IFN Media Group...

Anda mungkin menyukai postingan ini