Makassar dan Malam yang Tak Lagi Aman
Keresahan warga atas aksi geng motor di Makassar menandai rapuhnya rasa aman di jalanan kota dan lambatnya negara hadir di ruang publik.
![]() |
| Foto: Ilustrasi |
Malam seharusnya tidak menjadi waktu yang menakutkan bagi warga kota. Ia semestinya tetap menjadi ruang yang aman bagi siapa pun untuk pulang, bekerja, beristirahat, atau sekadar melintas tanpa rasa cemas. Namun di Makassar, rasa aman itu pelan-pelan terasa menjauh. Jalanan yang seharusnya menjadi ruang publik justru makin sering menghadirkan kegelisahan, terutama ketika malam turun dan kota mulai lengang.
Dalam beberapa pekan terakhir, keresahan itu bukan lagi sekadar rasa waswas yang dibisikkan dari mulut ke mulut. Ia hadir dalam bentuk yang lebih nyata: penyerangan di jalan, perusakan kendaraan warga, kelompok bermotor yang bergerak beramai-ramai, hingga laporan penggunaan senjata tajam dan busur di ruang publik. Di sejumlah titik, warga bukan hanya dibuat takut melintas, tetapi juga mulai merasa bahwa malam bukan lagi milik mereka.
Peristiwa yang terjadi di Jalan Langgau, Bontoala, pada awal Mei menjadi salah satu gambaran paling terang tentang bagaimana rasa aman warga bisa runtuh dalam semalam. Sekelompok pelaku datang ke kawasan permukiman pada dini hari, merusak kendaraan, dan menebar ancaman di depan rumah warga. Dalam laporan yang beredar, pelaku bahkan diduga membawa senjata, sementara warga hanya bisa menyaksikan ketegangan hadir begitu dekat dengan ruang tinggal mereka sendiri.
Keresahan serupa juga muncul di banyak titik lain. Jalan-jalan utama yang semestinya menjadi urat nadi kota justru berkali-kali disebut sebagai lokasi aksi kelompok bermotor yang menyerang warga secara acak. Ada yang pulang kerja dengan waspada berlebih, ada yang memilih menghindari keluar malam, ada pula yang mulai merasa harus memeriksa situasi jalan lebih dulu sebelum pulang. Perlahan, rasa aman berubah menjadi kewaspadaan yang melelahkan.
Di titik inilah masalahnya tak lagi semata soal geng motor. Mereka memang pelaku yang terlihat di permukaan, tetapi persoalan sesungguhnya jauh lebih dalam: kota sedang kehilangan rasa aman di ruang publiknya sendiri.
Kota yang sehat bukan hanya kota yang terang, ramai, dan bergerak hingga larut malam. Kota yang sehat adalah kota yang membuat warganya merasa aman berada di dalamnya. Ukuran keamanan tidak cukup hanya pada patroli yang sesekali lewat atau penindakan setelah kejadian ramai dibicarakan. Ukuran keamanan yang paling sederhana justru ada pada rasa tenang warga ketika melintas di jalan kota mereka sendiri.
Masalahnya, yang kerap terjadi justru sebaliknya. Aparat hadir setelah keresahan membesar. Patroli diperketat setelah laporan menumpuk. Respons muncul setelah rekaman beredar dan kegaduhan telanjur ramai. Polrestabes Makassar memang telah meningkatkan patroli malam melalui pengawasan di sejumlah titik rawan, tetapi pola semacam ini tetap memperlihatkan satu hal yang tak bisa diabaikan: negara terlalu sering hadir setelah warga lebih dulu merasa cemas.
Ini bukan semata soal cepat atau lambat menangkap pelaku. Ini soal bagaimana rasa aman warga terlalu sering dibiarkan rapuh lebih dulu, lalu dipulihkan setelah situasi terlanjur gaduh. Padahal rasa aman tidak dibangun dari respons sesudah kejadian, melainkan dari kehadiran yang terasa sebelum ancaman datang.
Makassar adalah kota besar yang hidup hingga malam. Aktivitas ekonomi berjalan, jalanan tetap bergerak, dan denyut kota tidak berhenti selepas matahari tenggelam. Tetapi kota yang hidup pada malam hari memerlukan satu hal paling dasar: jaminan bahwa warganya dapat bergerak tanpa dihantui rasa takut.
Ketika warga mulai menghindari jalan tertentu pada malam hari, ketika keluarga merasa cemas menunggu anggota keluarganya pulang, ketika pengendara merasa harus lebih takut pada jalanan ketimbang kemacetan, saat itulah kota sedang kehilangan salah satu fungsi dasarnya sebagai ruang hidup bersama.
Kita tentu tidak sedang bicara tentang kepanikan. Namun keresahan warga juga tidak bisa dianggap sebagai hal yang biasa. Rasa aman adalah fondasi paling dasar dari kehidupan kota. Dan ketika rasa aman itu mulai retak, yang terancam bukan hanya ketertiban malam, tetapi juga kepercayaan warga terhadap kota yang mereka tinggali.
Makassar tidak kekurangan jalan, lampu, atau keramaian. Yang sedang diuji hari ini adalah hal yang lebih mendasar dari itu: apakah kota ini masih mampu membuat warganya merasa aman, bahkan di malam hari.
