Berita Terbaru

Peserta Seleksi Koperasi Desa Merah Putih Soroti Banyak Kejanggalan Sistem CAT, 30-50 Soal Disebut Hanya Diberi Waktu 7 Menit

Peserta seleksi KDMP melaporkan dugaan malfungsi sistem CAT saat ujian berlangsung dan meminta audit sistem serta pelaksanaan ujian ulang.

 

Foto: ilustrasi peserta mengikuti ujian CAT seleksi SDM Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di ruang ujian berbasis komputer.


Lontara Today - Dugaan gangguan sistem dalam pelaksanaan ujian berbasis komputer atau Computer Assisted Test (CAT) pada seleksi SDM Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) kembali menjadi sorotan publik.

Sejumlah peserta mengaku mengalami kendala teknis saat mengikuti ujian, mulai dari sistem yang tidak responsif, jawaban yang hilang, hingga dugaan perubahan jawaban secara otomatis di dalam sistem.

Salah satu peserta seleksi, berinisial DH , bahkan mengirimkan laporan resmi kepada panitia penyelenggara seleksi Kementerian Pertahanan (Kemhan), Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop), serta Badan Kepegawaian Negara (BKN).

Surat laporan tersebut dibuat di Kuningan pada 5 Mei 2026 dengan perihal “Laporan Kendala Sistemik CAT, Evaluasi Ujian, dan Permohonan Ujian Ulang (Re-test).”

Dalam surat tersebut, Dede mengaku mengalami sejumlah kendala saat mengikuti ujian CAT seleksi Manajer KDMP di Gedung Telkom Sportainment, Bandung, pada Senin (4/5/2026).

Ia menyebut antarmuka sistem ujian tidak berjalan optimal dan beberapa tombol harus ditekan berulang kali agar dapat berfungsi.

“Tombol pengiriman (submit) harus diklik berulang kali. Ketika saya berhasil menekan tombol simpan, sistem justru mengalami freeze (tidak merespons) dengan waktu loading yang lama,” tulisnya dalam laporan tersebut.

Dede juga mengaku jawaban yang telah diisi sebelumnya hilang setelah halaman kembali termuat.

“Saat halaman kembali termuat, jawaban yang telah diisi hilang dan sistem hanya merekam 2 soal, dengan sisa waktu ujian tinggal 20 detik,” lanjutnya.

Tak hanya itu, ia turut mempertanyakan stabilitas sistem setelah menemukan dugaan perubahan jawaban tanpa intervensi peserta.

“Selain itu, terdapat temuan bahwa jawaban yang sudah dipilih dapat berubah dengan sendirinya tanpa intervensi peserta,” tulisnya.

Baca Juga: Sistem Ujian Seleksi SDM Koperasi Desa Merah Putih Dikeluhkan, Jawaban Peserta Diduga Berubah Otomatis

Dalam laporannya, DH juga mengaku sempat meminta bantuan kepada pengawas ruangan saat kendala terjadi. Namun menurutnya, tidak ada solusi teknis yang diberikan selama ujian berlangsung.

“Pengawas hanya menyatakan, ‘Sistemnya memang tidak stabil,’ dan membiarkan sisa waktu saya habis secara sia-sia,” tulisnya.

Selain persoalan teknis, peserta juga menyoroti durasi ujian yang dinilai tidak rasional dibanding jumlah soal yang harus dikerjakan.

Menurut laporan tersebut, peserta hanya diberikan waktu sekitar tujuh menit untuk mengerjakan 30 hingga 50 soal dalam setiap subtes.

Kondisi itu disebut membuat peserta kesulitan melakukan analisis jawaban secara maksimal.

“Hal ini memaksa peserta untuk sekadar menebak jawaban secara serampangan,” tulis Dede dalam laporannya.

Ia juga mempertanyakan target passing grade yang dinilai terlalu tinggi dibanding waktu pengerjaan yang tersedia.

“Target kelulusan (passing grade) 110 dari 228 poin dengan total durasi 42 menit sangat di luar batas logika,” lanjut isi laporan tersebut.

Selain itu, peserta mengaku tidak mendapatkan penjelasan yang memadai terkait sistem penilaian ujian saat briefing awal.

Menurut laporan tersebut, penjelasan panitia hanya berfokus pada tes manajerial bidang tertentu, sementara mekanisme penilaian tes kognitif tidak dijelaskan secara rinci.

Peserta juga menyoroti dugaan pola soal yang berulang dan indikasi kebocoran materi ujian yang disebut telah beredar di sejumlah platform pembelajaran daring dan media sosial.

Atas sejumlah persoalan tersebut, Dede meminta panitia penyelenggara melakukan audit terhadap sistem CAT yang digunakan selama proses seleksi berlangsung.

Ia juga mendesak adanya pelaksanaan ujian ulang bagi peserta yang terdampak kendala teknis.

Dalam suratnya, terdapat tiga poin permintaan utama kepada penyelenggara, yakni memfasilitasi ujian ulang (re-test), melakukan audit log server untuk memvalidasi dugaan hilangnya jawaban secara otomatis, serta mengevaluasi kembali proporsi waktu ujian dan passing grade seleksi.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak penyelenggara seleksi terkait laporan dugaan malfungsi sistem CAT tersebut.

Sementara itu, keluhan serupa mulai ramai dibahas peserta lain di media sosial. Sejumlah unggahan menyebut kendala teknis terjadi di beberapa lokasi ujian berbeda, meski belum seluruhnya dapat diverifikasi secara independen.

Para peserta kini masih menunggu tanggapan resmi dari panitia penyelenggara terkait tuntutan audit sistem dan permohonan ujian ulang yang telah disampaikan.

Jurnalis & Founder IFN Media Group...

Anda mungkin menyukai postingan ini