Krisis BBM di Liukang Tangaya Pangkep, Nelayan Tak Bisa Melaut

Krisis BBM melanda Liukang Tangaya, Pangkep. Nelayan tak bisa melaut akibat kekurangan solar dan Pertalite, DPRD minta solusi segera.

 

Aktivitas nelayan di wilayah kepulauan Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. (dok/fajar.co.id)



Pangkep, Lontara Today - Warga pulau di Kecamatan Liukang Tangaya, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, dalam beberapa hari terakhir mengalami krisis bahan bakar minyak (BBM). Kondisi ini berdampak langsung pada aktivitas masyarakat, terutama nelayan yang bergantung pada ketersediaan solar dan Pertalite untuk melaut.

Keterbatasan pasokan BBM menyebabkan banyak kapal nelayan tidak dapat beroperasi. Akibatnya, aktivitas penangkapan ikan terhenti dan berdampak pada pendapatan harian masyarakat yang sebagian besar menggantungkan hidup pada sektor perikanan.

Krisis ini bukan hanya persoalan distribusi energi, tetapi juga menyangkut keberlangsungan ekonomi warga di wilayah kepulauan. Tanpa BBM yang memadai, roda ekonomi lokal ikut melambat karena aktivitas produksi hasil laut tidak berjalan.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pangkep dari daerah pemilihan (dapil) Kepulauan, Muhammad Ramli, membenarkan kondisi tersebut. Ia menyampaikan keprihatinannya atas situasi yang dialami masyarakat di wilayah kepulauan, khususnya di Kecamatan Liukang Tangaya.

Menurut Ramli, sektor perikanan merupakan tulang punggung ekonomi masyarakat setempat. Ketika nelayan tidak bisa melaut akibat ketiadaan BBM, maka dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga terhadap stabilitas ekonomi wilayah secara keseluruhan.

Baca Juga:

Sosok Nona, Owner di Bulukumba yang Jadi Korban dalam Kasus Perselingkuhan Dikenal Aktif Memberi Donasi

Termuda di Sulsel, Usia 25 Tahun Fahmi Adam Resmi Dilantik sebagai Ketua DPRD Gowa

Menanggapi kondisi tersebut, Ramli berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi krisis BBM yang terjadi. Ia menilai perlu adanya solusi jangka pendek agar distribusi BBM bisa kembali normal, sekaligus langkah jangka panjang untuk mencegah kejadian serupa terulang.

“Semoga pemerintah daerah segera carikan solusi agar nelayan bisa kembali melaut, kami juga mengajak para pengusaha SPBU untuk berinvestasi di Pangkep khusus untuk bantu melayani kebutuhan BBM masyarakat pulau,” harap Ramli, dinukil dari pranala.co.

Ajakan tersebut ditujukan kepada para investor, khususnya pelaku usaha di sektor Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), agar dapat melihat peluang investasi di wilayah kepulauan. Kehadiran infrastruktur distribusi BBM yang lebih dekat dengan masyarakat dinilai dapat menjadi solusi berkelanjutan.

Selama ini, pasokan BBM di wilayah kepulauan masih sangat bergantung pada distribusi dari daratan utama. Kondisi geografis serta faktor cuaca seringkali menjadi hambatan dalam proses pengiriman, sehingga ketersediaan BBM tidak selalu stabil.

Pembangunan SPBU di wilayah kepulauan diharapkan mampu mengurangi ketergantungan tersebut. Dengan adanya fasilitas distribusi yang memadai, masyarakat dapat memperoleh BBM secara lebih mudah dan berkelanjutan tanpa harus menunggu pasokan dari luar pulau.

Selain itu, keberadaan SPBU juga dinilai dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, karena tidak hanya melayani kebutuhan nelayan, tetapi juga sektor lain yang bergantung pada energi, seperti transportasi dan usaha kecil.

Hingga saat ini, masyarakat di Kecamatan Liukang Tangaya masih berharap adanya langkah cepat dari pemerintah daerah dan pihak terkait untuk mengatasi krisis BBM yang terjadi. Ketersediaan bahan bakar menjadi kebutuhan mendesak agar aktivitas nelayan dapat kembali berjalan dan ekonomi masyarakat pulau bisa pulih seperti semula.

Jurnalis & Pengelola Lontara Today...

Anda mungkin menyukai postingan ini